Tradisiodern

Melihat keberadaan retail modern saat ini sudah menjamur dan hampir pasti keberadaanya hingga perkampungan. Kondisi ini tentu saja mempengaruhi akan keberadaan retail tradisional maupun para pengecer seperti pasar tradisional dan toko kelontong misalnya. Sehingga pada kondisi diatas banyak para pengecer memilih untuk gulung tikar karena kalah bersaing dengan retail modern yang berdiri di depannya.

Melalui Ketua Persatuan Pedagang Pasar Tradisional (KP3T) Kabupaten Malang, Pendapatan para pedagang tradisional mengalami penurunan, sehingga setiap harinya mereka selalu merugi. Terlebih keberadaannya sangat berdekatan dengan pasar tradisional. Saat ini di kabupaten Malang sendiri telah berdiri kurang lebih 200 minimarket yang kesemuanya berdiri dan berlokasi di dekat pasar tradisional. Selain itu belum adanya payung hukum yang tegas terkait berdirinya minimarket dan mungkin semoga sudah terlahir perda tentang hal ini. ( http://surabaya.detik.com/read/2011/03/16/142558/1593214/1066/pedagang-tradisional-keluhkan-menjamurnya-minimarket )

Seperti belum lama ini di Jl. Ancol I No.9 10, Ancol Barat Jakarta 14430, bagaimana masyarakat menolak keberadaan berdirinya salah satu minimarket yang dirasakan sangat menganggu karena lokasinya yang berdekatan dengan pasar tradisional. Hingga akhirnya Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) sebagai mediator akhirnya mengeluarkan putusan sebagi mediasi antara kedua belah pihak. Kemampuan pasar minimarket modern memang bisa sangat dominan bila dibandingkan dengan para pengecer dan pedagang tradisional. Berbagi keunggulan tersebut antara lain terkait dengan suplier, harga (diskon,potongan,dsb), jalur distribusi yang berbeda, dan sebagainya. Dengan semua keunggulan tersebut sangat dominan sekali bagi mereka untuk menguasai pasar.

Mengenai alasan kebangkrutan UKM (pengusaha kecil), pernyataan Syarif Hasan, Menteri Koperasi dan UKM bahwa minimarket bukanlah penyebabnya. Pada tataran praksis, inti dari merebaknya minimarket adalah kebutuhan akan barang-barang konsumsi yang bersih, modern, supply terjaga dan harga yang tidak fluktuatif terlalu sering. Untuk itu, ketika Pasar Tradisional direvitalisasi, sehingga dari sisi tertentu “modern” maka keberadaan pasar tradisional tetap menjadi rujukan utama masyarakat. Apalagi, pasar tradisional dapat menjadi pusat barang-barang konsumsi sebelum bergerak ke toko-toko distribusi. Toko-toko tradisional pun, berpotensi menjadi ritel modern. Tidak perlu menjadi Alfamart, Indomaret, Yomart dan seterusnya. Bisa dengan merk sendiri, asal manajemen dan perlakuan pelanggan secara modern. Penerapannya mulai dari model swalayan, dan tentu, tidak boleh ada “kasbon” seperti yang seringkali terjadi ( http://www.unggulcenter.org/2010/10/09/minimarket-melumpuhkan-pasar-tradisional/ )

Beberapa kondisi diatas memang diperlukan suatu mediasi yang seimbang antara pihak-pihak yang tekait di dalam lingkaran tersebut. Dalam hal ini pemerintah sebagai mediator diharapkan dapat membuat kebijakan yang dpat diterima oleh semua pihak termasuk masyarakat, para pelaku usaha dan juga untuk keseimbangan pasar pada umumnya. Tapi ketika saya bertanya pada salah satu pedagang pengecer yang buka di sekitar jalan Perumnas yogyakarta, ketika saya bertanya mengapa kok sampai gulung tikar?. Beliau menjawab, “Lha niku mas, sakwise ngarep omah ono minimarket kuwi, kroso tenan mas omsete medun okeh”. Hingga pada akhirnya dari pada tutup usahanya akhirnya tanah beliau juga dikontrakan pada salah satu kompetitor minimarket yang ada di depannya.🙂

Maka, mari kita bisa bijaksana terhadap berbagai kondisi diatas. Sebagai masyarakat, para pelaku usaha, maupun pemerintah dan semua yang terlibat didalamnya tidak semata-mata hanya berdalih modernisasi melainkan nilai-nilai tradisional masih sangat diperlukan dalam kehidupan ini atau lebih tepatnya mari kita ciptakan sebuah kondisi yang “tradisiodern”. Karena sebetulnya antara keduanya terdapat nilai-niali yang sangat dibutuhkan dalam hidup dan kehidupan ini. Jadi mari ber “tradisiodern”.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s