Surat buat wakil rakyat di Sleman….

Bulan ini menjadi ajang pesta masyarakat dalam menentukan siapa yang akan menjadi bakal calon panutan mereka dalam memimpin daerahnya masing-masing. Di tempat saya tinggal di wilayah Sleman, kebetulan terdapat 7 calon yang akan bersaing dalam pemilihan kepala daerah tepatnya pada tanggal 24 Mei 2010. Atribut kampanye yang sudah tersebar di berbagai lokasi di wilayah Sleman saat ini memang menjadi daya tarik sendiri bagi kita yang melintas di lokasi tempat berbagai atribut kampanye tersebut dipasang. Dari situ tercermin begitu indahnya demokrasi masyarakat kita yang menampung berbagai aspirasi masyarakat serta visi misi dari para calon yang mereka usung dengan berbagai keinginan dan harapan yang sangat indah terkait dengan apa yang akan dicapai Sleman untuk ke depannya.

Indahnya demokrasi yang diharapkan masyarakat kita sbetulnya sangat indah untuk kita pahami dan resapi apa arti demokrasi itu sendiri. Ini terkait dengan memaknai kebersamaan dalam masyarakat kita. Namun indahnya pesta demokrasi kita sering dinodai oleh para calon pemimpin kita sendiri yang menggunakan berbagai cara untuk bisa memenangkan pemilihan. Memang kita terkadang miris melihat para calon pemimpin kita yang banyak menggunakan cara-cara yang tidak benar dalam mewujudkan ambisinya menjadi pemimpin dalam masyarakat. Padahal kita semua tahu untuk menjadi seorang pemimpin itu berat, berat disini terkait dengan tanggung jawab serta amanah yang kita emban selama kita menjadi pemimpin. Amanah tersebut akan kita pertanggung jawabkan kepada masyarakat yang kita pimpin dan yang pasti kepada Alloh SWT kelak disana.

Yang paling kita kenal dalam masyarakat kita adalah politik uang. Arti gamblang politik uang itu sendiri dapat dikiaskan sebagai berikut, “Milih sing ngeke’i kaos ambe duit ae (memilih yang memberi kaus dan uang saja),” ujar Gunadi (35), salah seorang warga di tetangga kampung saya, ketika saya tanya  siapa yang akan dipilih dalam pemilihan Kepala daerah kabupaten sleman periode 2010-2014  yang dilaksanakan 23 September mendatang.

Ungkapan seperti disampaikan Gunadi diatas  belakangan ini beberapa kali menjadi jawaban enteng dari beberapa warga yang lain di Sleman ketika pertanyaan serupa diajukan. Jawaban itu agaknya juga sangat  dipahami sebagian atau bahkan semua pasangan calon kepala daerah yang tengah bertarung dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di wilayah Sleman. Akan tetapi sangat berbeda jawaban dari seoarang warga yang lain ketika saya ajukan pertanyaan yang sama, beliau menjawab ” wah mboten ngertos kulo mas, lha wong bingung calone katah sanget wonten pitu e , lha nek wong sing do gadah artho sami podo njago sedanten, mangkih sing badhe dipimpin nopo dijamin meningkat sedanten kesejahteraanipun”, menawi kulo nggih mas , mbok sing do duwe artho katah meniko sami podo bekerja sama mungkasi masalah – masalah ingkang pelik di masyarakat kita, ojo malah sami do rebutan kuoso…”. Memang jawaban dari salah seorang warga yang polos tersebut sebetulnya sangat bermakna waluapun disampaikan dengan sangat sedehana. Makna dan hikmah dari jawaban dari warga tersebut kita harapkan dapat di pahami dan tentu saja diamalkan bagi para calon pemimpin kita khususnya di wilayah Sleman.

Jka kita lihat dari berbagai konsep kampanye masing-masing calon , seolah adalah kutipan jawaban atas pernyataan dari warga diatas. Misalnya, dengan mengadakan penjualan kebutuhan pokok berharga murah atau menggelar gerak jalan berhadiah sepeda motor, mengadakan fun bike berhadiah. Yang paling miris adalah sebagian calon juga tidak segan-segan dan dengan terang-terangan memberiakn kontrak politik yang akan memberikan sejumlah uang melalui para kadernya kepada masyarakat untuk mengajak memilih pada salah satu calon yang diusungnya.

Sikap ”royal” pasangan calon peserta pilkada  ini boleh kita terapkan. Akan tetapi “royal” disini harus melihat apakah calon tersebut betul-betul memiliki kapasitas sebagai calon pemimpin. Mengutip dari apa yang disampaikan oleh ustadz Iip Wijayanto, bahwa seorang calon pemimpin yang menggunakan cara yang tidak benar dalam upaya memperoleh suara sehingga bisa menang dalam pemilihan itu merupakan sikap yang “kurang pede” dan malahan menunjukan kekurangannya atau kapasitasnya menjadi seorang pemimpin sangat rendah. Tentu saja masyarakat Muslim khususnya akan betul-betul cerdas dalam memilih para calon pemimpinnya, dengan tidak memilih para calon pemimpin yang menggunakan cara-cara yang kotor dalam ambisinya untuk menang dalam memenangkan pemilihan pilkada khususnya.

Sebagian masyarakat tidak menilai itu sebagai praktik politik uang. Karena hal itu akan sangat sulit dibuktikan, karena para kader dari para calon tersebut pintar dalam menyamarkan praktik politik uang tersebut. Dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menyebutkan, sebuah tindakan disebut politik uang jika terbukti untuk memengaruhi pilihan warga. Dalam hal pembuktian ini yang sulit dan memakan waktu lama karena harus sampai pengadilan. Ini terkait dengan data dan fakta yang terdapat di lapangan akan sangat sulit ditemukan untuk dijadikan bukti. Kondisi inilah yang membuat belum pernah ditemukan atau terdengar ketika ada pasangan peserta pilkada yang pencalonannya dibatalkan oleh DPRD karena terbukti melakukan praktik politik uang.

Terlepas dari semua hal diatas , maka mari kita sebagai warga yang bijak, warga yang cerdas, warga yang betul-betul menginginkan kemajuan Sleman pada khususnya dapat dengan jeli memilih para calon pemimpin Sleman nantinya. Dan kita harapkan kelak bagi yang terpilih bisa menjadi pemimpin yang amanah dan tentu saja dapat membawa Sleman kearah yang lebih baik dalam berbagai sektor kehidupan.

Sebagai anggota KPPS di wilayah kampung saya tepatnya Condongsari RW 62 di wilayah Condongcatur, saya khususnya dan semua anggota KPPs yang lain mengharapkan peran serta masyarakat di wilayah RW 62 untuk ikut serta menyukseskan Pemilihan kepala daerah pada tahun ini dengan menggunakan suaranya.

Hafid lastito

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s