Kisah Selembar sajadah…

Kisah selembar sajadah……….

Bermasyarakat merupakan nilai mutlak manusia dalam memenuhi salah satu kodratnya sebagai manusia yang mulia. Secara fisik manusia memang diciptakan secara berbeda-beda, namun ketika manusia itu lahir dan mengalami proses pendewasaan diri secara batiniah akan mendorong manusia untuk selalu berinteraksi dengan orang lain. Dalama lingkungan pedesaan penerapan akan norma kemasyarakatan terlihat sangat kental, terbalik dengan kehidupan di perkotaan yang cenderung jauh dari nilai-nilai sosial dan kemasyarakatan.
Seperti kita ketahui definisi masyarakat padadasarnya adalah sekelompok manusia yang hidup bersama dalam suatu wilayah tertentu dan menghasilkan kebiasaan atau kebudayaan. Sehingga dari pengertian diatas maka mengapa terjadi perbedaan kebiasaan ataupun adat istiadat antara sekelompok masyarakat satu dengan masyarakat lainnya.

Kita kembali kepada konsep sosial atau bermasyarakat itu sendiri. Dalam hakikatnya sebagai manusia sebagai bagian dari masyarakat, maka disini terdapat hak dan kewajiban manusia itu sendiri sebagai bagian dari masyarakat itu sendiri. Jika kita ambil gambaran dalam salah satu kegiatan di masyarakat seperti kerja bakti misalnya. Dalam kerja bakti kita lihat semua warag saling bekerja sama dalam team tanpa memandang jabatan, kaya, miskin, derajat, mereka berbaur satu sama lain. Konsep yang sama juga dapat kita lihat dalam “laden”. Istilah “laden” atau biasa juga disebut “nyinom” merupakan suatu kegiatan dalam masyarakat pedesaan yang biasanya jika ada resepsi atau hajatan warga dengan melayani para tamu undangan dengan berkeliling. Biasanya yang bertindak selaku “sinom” dalam hal ini adalah kaum muda dalam lingkungan masyarakat itu sendiri. Ilmu yang ada dalam “sinom” adalah bagaimana kita bisa belajar dari konsep saling membantu, menghormati dan melayani antar anggota masyarakat. Jadi disini jangan dilihat “sinom” sebagai pekerjaan yang rendahan, karena dalam masyarakat pekerjaan yang dipandang paling rendah pun bisa memposisikan pekerjaan tersebut sebagai sesuatu yang paling mulia. Karena nilai-nilai dalam masyarakat menganut suatu sistem atau norma yang mencerminkan suatu nilai -nilai yang sangat mulia.

Jikalau kita bandingkan dengan nilai atau materi, bisa berkumpul dengan masyarakat, bertegur sapa, saling silaturahmi merupakan penyeimbang kehiduipan bagi manusia. Seperti apayang disampaikan Waluyo, beliau seorang pemuka masyarakat di sebuah desa di kota Bantul, ketika saya sempat mengobrol dengan beliau, akhhirnya sampai juga pada sebuah topik yang membuat beliau sangat semangat untuk bercerita dan berbicara banyak kepada saya. Topik itu tak lain adalah bagaimana konsep kehidupan manusia terkait dengan apa itu yang namanya silaturahmi. Beliau menceritakan sebuah riwayat salah satu penduduk di wilayahnya yang pada waktu itu dia adalah seorang yang sangat kaya raya dan dengan hartanya itu dia dapat ,membeli semua yang dia inginkan apapun itu dengan harga berapapun. Apa yang dia khayalkan pasti dengan sangat mudah dapat dia wujudkan. Dengan rumah yang layaknya sebuah  istana raja dengan banyak pelayan yang sangat setia melayaninya dengan penuh pengabdian.

Dengan kondisi yang seperti itu tentu saja sangat diinginkan setiap orang. Tapi setelah sekian lama dia hidup dengan berlimpah harta, dan semua yang dia inginkan tercukupi, lantas pa yang kurang… HIngga pada suatu sore dia termenung di sebuah jendela rumahnya sambil menikmati secangkir teh. Tak sengaja matanya melirik pada segerombolan anak kecil yangs sedang bermain kelereng di sebuah halaman rumah kecil yang terlihat sangat asri dan nyaman jika dipandang. Tak terasa matanyapun berair mengeluarkan air mata dan dia pun menangis dan itu adalah suatu hal yang belum pernahbia lakukan atau ia alami hingga umurnya yang mendekati kepala empat. Dia terus menangis tak bisa berhenti terus dan terus saja air matanya mengalir malah bertambah semakin deras. Hingga akhirnya dia pun memanggil salah satu orang terdekatnya.

Dia bercerita kepada orang terdekatnya tersebut untuk mengusahakan bagaimanacaranya agar ia bisa segera mendapatkan istri dan cepat mempunyai keturunan. Tak ayal orang terdekatnya itu pun hanya tersenyum lalu menangis karena ia melihat Tuannya itu mulai mengerti apa itu makna sebenarnya arti kehidupan. Sepanjang waktu dia bercerita dan akhirnya pada keesokan harinya Sang Tuan pun berjalan mengelilingi kampung hanya menggunakan snadal jepit dan pakaian biasa seperti masyrakat yang lain. Maka masyarakat pun merasa heran akan perilaku orang kaya tersebut yang dahulu sangat jarang keluar sdikitpun berjalan di kampung yang kotor.

Sesampai di rumahnya, sang orang kaya itu pun merenung kembali sesekali dia pun menangis. Hingga matanya yang basah itu pun memandang selembar sajadah yang terlipat rapi di lemari yang bersih nan wangi. Ia beranjak dari kursi emasnya dan meraih sajadah yang indah itu masih halus lembut seprti tanpa pernah di gelar sekalipun. Sekejap itu dia memanggil orang terdekatnya dan dia memutuskan untuk mewaqafkan seluruh harta dan rumahnya untuk dibangun sebuah masjid bagi masyarakat di kampung itu. Dan ketika orang terdekatnya itu berpamitan sampai di depan pintu keluar ada yang lupa ingin ia tanyakan pada tuannya itu, tapi……………….

Sang kaya itu sudah hilang lenyap dan sampai sekarang tak ada yang tahu dia kemana dengan hartanya yang samapi kini masih berdiri kokoh menjadi masjid…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s