Rokok….Rokok…Rokok…

Harga menjadi salah satu bagian yang penting sebelum suatu produk akan dikenalkan ke pasar. Kenapa terkadang para pembuat kebijakan terkait dengan harga sering sekali membuat keputusan yang slah terkait dengan harga yang sudah terlanjur beredar di pasaran. Sehingga umur dari produk itu pun akan sangat pendek atau mungkin akan segera hilang dari pasaran karena perusahaan memilih untuk berhenti memprodukasi untuk efisiensi. Harga dapat mempengaruhi apa yang menjadi keputusan konsumen selanjutnya, apakah dia akan membeli atau mngkin akan menjatuhkan pilihanya pada produk lain yang sejenis.

Jika kita berbicara cukai dalam rokok tentu saja akan berpengaruh pada penentuan harga jual rokok itu sendiri. Mungkin untuk produk yang lain ketika cukai atau dalam hal ini pajak dinaikan mungkin akan sangat berdampak pada jumlah penjualan. Berbeda dengan rokok, dengan harga berapapun konsumen atau perokok dalam konteks ini, akan tetap berusaha untuk membeli rokok apapun caranya. Karena  biasanya bagi para perokok yang sudah kawakan (he,,he.he) merokok sudah menjadi bagian dari hidupnya dan sudah dilakukan semenjak lama. Sehingga kebutuhan akan merokok sudah menjadi suatu hal yang mutlak bagi mereka. Mungkin hal ini jiak kita hubungkan dengan ilmu kesehatan maka ini terkait dengan adanya zat yang terkandung dalam batang rokok yang bersifat seperti candu. Sehingga bagi orang yang menghisapnya, dalam beberapa waktu berikutnya akan mempunyai hasrat untuk sesuatu rasa yang sama dengan sebelumnya.

Untuk itu disini pengaruh harga akan sangat mempengaruhi psikologi konsumen. Dan keputusan membeli dipengaruhi oleh faktor kejiwaan yang akhirnya berbuah hasil berupa keputusan membeli terhadap suatu produk tertentu. Dan untuk faktor yang satu ini konsumen akan sangat peka. Terkadang kita sering menyaksikan hanya untuk mengejar harga yang hanya selisih seratus atau dua ratus rupiah, mereka mau untuk berkorban untuk mencari ke tempat yang lebih jauh. Terkait dengan masalah harga jika kita hubungkan dengan kenaikan harga rokok yang sebentar lagi akan mengalami kenaikan harga yang cukup tinggi.

Rokok adalah sesuatu yang menjadi dilema tak hanya bagi masyarakat, tetapi juga bagi pemerintah. Sangat berbanding terbalik ketika rokok menjadi salah satu pemasok terbesar bagi devisa tetapi pengeluaran pemerintah juga akan bertambah besar diakibatkan penyakit yang ditimbulkan dari rokok itu sendiri. Dampak yang ditimbulkan dari rokok adalah meningkatnya jumlah pasien penderita penyakit yang diakibatkan oleh rokok. Rokok sudah menjadi salah satu gaya hidup yang harus dipenuhi oleh masyarakat baik itu masyarakat golongan terendah hingga masyarakat golongan tertinggi, dari masyarakat miskin hingga masyarakat yang kaya, mereka dengan mudah untuk mendapatkan apa itu yang namanya rokok. Dengan harga rokok yang sangat murah sekali sehingga masyarakat miskin pun akan dengan mudah mendapatkannya, apalagi bagi yang lebih mampu dan dengan harga yang sama pula.

Penyebab besarnya konsumsi rokok di Indonesia adalah harag yang sangat murah jika dibandingkan dengan harga rokok di negara lain khususnya di wilayah Asia Tenggara. Sebagai perbandingan, harga rokok untuk merek buatan lokal di Singapura adalah Rp 66.600, di Malaysia Rp 13.800, di Thailand Rp 7.900, sedangkan di Indonesia harganya cuma Rp 5.000.  Murahnya harga rokok di Indonesia ini akan menyebabkan rokok akan dengan mudah dapat dikonsumsi oleh masyarakat dari kalangan manapun. Rendahnya harga rokok itu sendiri disebabkan oleh harga rokok  telah mendapat subsidi dari industri rokok itu sendiri. Oleh karena itu mengapa harga rokok yang dijual pasti lebih murah daripada haraga yang tertera pad banderolnya. Oleh karena itu untuk mengurangi jumlah konsumsi rokok di Indonesia pemerintah mencoba menaikan cukai rokok secara bertahap, tetapi cara itupun belum ampuh juga untuk mengurangi jumlah konsumsi rokok di Indonesia.

Kenaikan cukai secara bertahap yang dilakukan oleh pemerintah juga ditanggapi oleh para pemain Industri rokok dengan melakukan adaptasi melalui penerapan strategi penjualan dan inovasi dari produk itu sendiri. Sehingga pengaruh kenaikan cukai rokok tidak berdampak begitu berarti dalam upaya mengurangi jumlah konsumsi rokok di Indonesia. Untuk itu pernah ada usulan dari beberapa pakar, terkait dengan upaya yang dilakukan pemerintah untuk menurunkan jumlah konsumsi rokok yang terus menerus mengalami peningkatan. Ada pula yang berangggapan bahwa kenaikan cukai hanya berlaku bagi para perokok pemula, dan tidal berlaku untuk orang yang terlanjur sudah merokok atau sudah kecanduan akan rokok itu sendiri.

Bahkan melalui berbagai kebijakan dan peraturan yang dikeluarkan Pemerintah terkait dengan pelarangan merokok ditempat tempat umum sampai sekarang belum ada sanksi yang tegas yang sudah diterapkan. Selain itu berbagai fatwa dari Majelis Ulama Indonesia yang terus mengkaji akan kemungkiinan bahaya rokok dan kemnungkinan pula di dorong untuk mengeluarkan fatwa tentang rokok yang bertujuan untuk mengurangi jumlah perokok di Indonesia.  Memang seperti yang kita katakan dalam awal tulisan ini,  bahwa rokok saat ini menjadi dilema bagi masyarakat dan pemerintah. Seperti misalnya jika rokok diharamkan dan dilarang di Indonesia apa yang terjadi, ribuan bahakan jutaan rakyat akan kehilangan pekerjaan mereka sebagi buruh pada pabrik rokok. Apa yang akan mereka untuk memenuhi kebutuhan mereka, keluarga mereka. Selain itu rokok yang menjadi penyumbang devisa terbesar bagi  pendapatan negara kita tentu saja akan berpengaruh sangat besar terhadap nilai pendapatan kita. Untuk itu pemerintah saat ini terus mengkaji terus menerus untuk menyelesaikan persoalan ini.

Satu cara untuk menghentikan para perokok jka meniru negara thailand adalah dengan teknik demoralisasi.  Dengan diberlakukan demoralisasi yaitu memunculkan perasaan malu kalau punya rokok di saku karena dalam bungkus rokok tersebut terdapat  gambar yang menjijikan, sehingga orang akan berpikir dua kali untuk beli rokok karena rokok dianggap barang yang memalukan dan menjijikan. Dalam waktu dekat ini, Departemen Kesehatan Republik Indonesia juga akan mengeluarkan semacam alat scanner yang dikhususkan untuk perokok sehingga dapat diketahui sanksi atau pelanggaran yang akan dikenakan bagi para perokok. Ada lagi pemikiran yang sangat menakutkankan bagipara perokok yaitu sanksi atau hukuman dari perokok didasarkan dari jumlah nikotin dalam darah. Sehingga bagi para perokok yang berat pasti sanksinya juga akan berat.

Memang sangat sulit bagi pemerintah untuk mengatasi hal ini terkait dengan upaya penurunan konsumsi rokok di Indonesia. Kunci dari itu semua adalah kebijaksanaan dari para perokok itu sendiri. Semoga saja permasalahan yang sangat dilematis ini bisa segera terselesaikan tentu saja ada manfaat antara pemerintah dan juga kelangsungan hidup masyarakat banayak yang banyak tergantung pada industri ini. Bagi para perokok tentu saja kita harus bisa untuk mencoba lebih bijaksana pada diri kita dan juga tentu saja bagi orang lain atau lingkungan kita. Bijaksana ini dapat direalisasikan melalui perbuatan atau tindakan dalam hal ini untuk tidak merokok ketika kita sedang berada di lingkungan yang disitu terdapat banyak orang.

“Mungkin kita akan lebih bijaksana jika beralih sebentar ke tempat yang lebih sepi sekedar untuk menyulut rokok…………………..”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s