Bisakah dan Mampukah Kita Menjadi Wiraswasta ?

Bisakah dan Mampukah Kita Menjadi Wiraswasta ?


Memulai usaha atau menjadi sebuah wiraswasta sebetulnya sangat mudah, tergantung pada kemampuan diri kita untuk mengaplikasikan apa yang sebenarnya sudah ada dalam diri kita secara alamiah. Yang dimakasud apa yang sudah ada dalam diri kita secara alami sejak kita lahir adalah bahwa kita sudah memiliki kemampuan menjual sejak lahir. Ini terlihat ketika ada seorang bayi selalu menangis untuk mendapatkan perhatian dari ibunya. begitu selanjutnya hingga ia juga akan menangis jika ingin akan sesuatu tetapi tidak dituruti, ketika mulai beranjak dewasa dia sudah bisa berdandan dan bersolek untuk mendapat daya tarik dari lawan jenisnya baik itu laki laki maupun perempuan.
Beberapa gambaran diatas sebenarnya memiliki konsep yang sama dengan konsep menjual, dimana seorang penjual berusaha memasarkan produk atau jasa yang ia tawarkan dengan mencoba merebut perhatian para konsumen atau pembeli dengan harapan mereka mau membeli produk atau jasa yang dia tawarkan. Sekarang tinggal kita mengaplikasikan apa yang sudah melekat pada diri kita secara naluriah ini ke dalam konsep menjual yang sebenarnya.

Ketika kita pertama kali membuka suatu usaha baru biasanya hal pertama yang menjadi ganjalan adalah terkait dengan permodalan. Sebetulnya itu bukanlah sebuah masalah yang harus dipikirkan. Perlu kita kaji ulang tentang posisi hutang dalam struktur permodalan kita, disini dapat kita lihat bahwa harta atau asset kita itu terdiri dari hutang ditambah dengan modal. Jadi kalau kita kutip sebuah buku ” Manjemen Hutang” karangan Purdi E Chandra (kalau tidak salah he,,he) disitu mengtakan bahwa hutang itu akan menjadi asset kita jika kita kelola dengan sistem manjemen yang baik. Hutang bisa menjadi sumber penghasilan bagi kita yang bisa mengelolanya dengan baik.
Banyak dari lembaga atau bank konvensional maupun bank syariah menawarkan sebuah program kredit usaha yang sangat bervariatif. Untuk itu kita harus selektif dalam memilih partner kita terkait dengan struktur permodalan kita. Sebagai pelaku usaha baru ada baiknya kita menggunakan beberapa kredit yang ditawarkan melalui program pemerintah seperti KUR ( Kredit Usaha rakyat), Kredit Usaha Pedesaan, PNPM Mandiri dan sebagainya. Tentu saja dalam program pemerintah ini menawarkan pinjaman dengan bunga yang paling rendah jika dibandingkan dengan bank atau lembaga keuangan yang lainnya. Selain itu persyaratan yang dibutuhkan biasanya tidak sesulit atau lebih dipermudah karena sifat dari pinjaman ini adalah pembinaan dari pemerintah untuk mengembangkan perekonomian rakyat

Memiliki sebuah usaha sendiri ( Independent retail firm) memang akan sangat menyenangkan. Selain ada rasa bangga pada diri kita karena kita bisa mengatur sendiri sistem manajerial usaha kita. Dalam merintis usaha untuk pertama kali yang harus kita lakukan adalah riset pasar. Dalam tahap ini kita berusaha membaca kondisi lingkungan yang akan menjadi pasar kita. Ini terkait dengan apa yang sebenarnya diinginkan konsumen dan apa yang diinginkan konsumen atau untuk lebih jelasnya kita harus bisa menerjemahkan pasar dengan menjabarkan konsep 5W1H ( what, who, when,where, whom, dan how). Jika semua itu dapat kita jabarakan termasuk nanti terkait dengan para pelaku lain yang akan menjadi pesaing kita, maka kita akan mempunyai gambaran terkait dengan apa yang betul betul menjadi keinginan pasar dan apa apa yang belum ada dalam pemenuhan kebutuhan mereka. Terkait dengan persaingan, hal itu wajar terjadi dalam dunia bisnis. Kunci untuk bisa menang atau minimal bertahan dalam persaingan adalah penerapan strategi yang tepat.

Konsep berikutnya dalam memulai suatu usaha baru adalah sabar. Untuk memahami konsep ini mungkin saya perlu menuliskan sebuah ilustrasi cerita yang saya alami. ” Ketika itu saya sedang naik bus, dimana sepanjang perjalanan seorang penjual asongan sibuk menawarkan daganganya seperti makanan ringan, minuman kemasan, rokok,permen dan sebagainya. Saat itu banyak saya dengar dari para penumpang yang lain, “wah bakule ki dodol kok neng kene, yo ra ono sing tuku, gek sing didol yo gor koyo ngono”, kata seorang penumpang disebelah saya, tapi saya tanggapi hanya dengan tersenyum. Ketika bus itu berhenti untuk transit disalah satu terminal, maka saya teringat dengnan apa yang dikatakan penumpang di sebelah saya tadi , dan saya mulai penasaran dengan nanti apa yang akan dikatakan penjual jika saya menanyakan hal serupa dengan apa yang dikatakan penumpang tadi. Lalu saya hampiri bapak penjual tadi dengan berpura membeli sebatang rokok ( ngecer..he,,he) lalu saya sulut rokok saya dan kumulai berdialog dengan penjual tadi. “ Laris Nggih Pak“, kataku, lalu dia menjawab “Alhamdullilah mas, nggih ngoten sithik2, mugi2 mangkih njagakke nek wonten sing ngelak nopo kagem gnjel weteng menawi perjalanan mangkih“. Akhirnya bus itu mulai berangkat saya pun bergegas naik ke bus tersebut begitu pula sang pedagang asongan tadi.

Ketika memasuki separuh perjalanan, betul juga salah seorang penumpang ada yang membeli barang dagangannya, kalu tidak salah waktu itu air kemasan dan makanan ringan.  Dan yang paling membuat saya kaget adalah pembeli itu adalah penumpang sebelah saya duduk tadi yang sempat mengatakan bahwa penjual itu sia sia menjual barang dagangan disini. Inti dari cerita diatas adalah yang dicari penjual asongan tadi adalah waktu atau momentum ketika pembeli atau konsumen memiliki kebutuhan untuk segera terpenuhi dan waktu atau momentum itu pasti ada dan akan muncul jika kita sabar dalam mengelola usah kita dengan melakukan inovasi inovasi untuk memahami keinginan pasar atau konsumen.

Selanjutnya ketika usaha itu berdiri kita harus menentukan visi dan misi usaha kita. Visi dapat kita artikan sebagai rencana dan misi berupa tujuan. Ketika kedua hal tersebut sudah ada maka secara tidak langsung kita dalam mengelola usaha tersebut akan bergerak dengan sendirinya ke arah tersebut sesuai apa yang menjadi visi dan misi kita tersebut. Sebagai contoh seorang George Eastman dulu hanyalah seorang fotografer lokal pada tahun 1880, tapi ia mempunyai visi, misi dan harapan untuk mendirikan perusahaan besar. Akhirnya pada tahun 1890 berdirilah KODAK yang kini menjadi salah satu merk terkenal di dunia.  Begitu pula misalnya ” Pak Joned, dia membuka sebuah toko kelontong mini di desanya, dia mempunyai harapan bahwa suatu saat tokonya akan menjadi sebuah minimarket atau supermarket besar. Dan itu adalah kuncinya diri kita akan tergerak dengan sendirinya sesuai kodrat kita yang sudah mempunyai bakat menjual sejak lahir.

Jadi untuk apa kita takut untuk berwiraswasta??

Salam

Hafid Lastito

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s