Cerita Jalur Pedestrian di Kota Yogyakarta

Tulisan ini saya posting setelah tiga hari yang lalu, Selasa, tanggal 10 April 2016 saya berkesempatan untuk jalan-jaln di kota yogyakarta untuk melihat kondisi exsisting jalur pedestrian di beberapa lokasi di kota Yogyakarta. Barangkali sekarang sudah menjadi hal yang biasa jika para pejalan kaki sudah tidaklmempunyai ruang untuk bergerak yang dinamakan jalan.

Malioboro 1 Timur Gedung BNI 6

Jika kita ambil contoh di jalan Malioboro, beberapa teman malah menganggap bahwa keberadaan para pedagang Kaki Lima di sepanjang jalur pejalan kaki malah menjadi kekayaan dan daya tarik tersendiri bagi para pengunjung kota Yogyakarta. Pastinya Malioboro menjadi tujuan pasti bagi para wisatawan yang mampir ke Yogyakarta. Sebagai contoh Wahyu, teman saya di kampung yang dengan sengaja memperlambat laju mobilnya ketika melewati jalan Maliobor hanya sekedar inigin melihat suasana keramaian malioboro.

Sebagai gambaran lain di depan Gedung Bank Indonesia Yogyakarta, kawasan pedestrian menjadi kawasan sentra kerajinan batu mulia serta para pengrajin figura. Namun hal itu justru menjadi daya tarik dan keunikan tersendiri bagi para pejalan kaki untuk sekedar melepas lelah dengan berjalan kaki sambil melihat para pedagang kaki lima yang menawarkan dagangannya yang terbilang unik seperti batu mulia. Bahkan salah satu grup band asal Yogyakarta, Sheila on 7 mengambil lokasi video klipnya dengan menampilkan sisi lain kota Yogyakarta seperti di sepanjan jalan di depan Gedung bank Indonesia.

Kembali ke topik utama, bahwa pedestrian atau pejalan kaki saat ini sudah mulai mendapatkan ruang yang cukup lapang di sepanjang jalan Malioboro. kebijakan walikota Yogyakarta yang melakukan penataan ulang kawasan pejalan kaki di Malioboro perlu kita apresiasi. Monggo, mari pinarak ke Malioboro, atau banyak yang menyebutnya sebagai pusat kota nya Yogyakarta. Dan sebagai warga Yogyakarta tentunya mari kita juga ikut menjaga kota kita ini dengan bagaimana menciptakan kenyamanan bagi para pengunjung kota kita dengan menampilkan kesan Yogyakarta yang benar-benar NYAMAN dan ISTIMEWA…🙂

Dilema antara Wartel dan Warnet…….

Masih ingat dengan tenggelamnya warung telekomunikasi atau biasa kita sebut wartel pada era tahun 2000 an. Saat itu bagaimana satu persatu pelaku usaha ini gulung tikar karena semakin sedikitnya proposrsi keuntungan yang mereka terima dari penyedia layanan. Penyebab lain dari tenggelamnya industry ini adalah semakin banyaknya konsumen beralih ke media komunikasi yang lain yang menawarkan biaya yang lebih murah dengan keefektifan menjadi sasaran bagi pelaku Industri ini untuk merebut pasar yang sebelumnya menggunakan wartel sebagai media komunikasi bagi mereka. Sehingga akhirnya saat ini banyak box telepon umum “nglungkruk” di sepanjang jalan dan dibiarkan begitu saja walau sudah tidak berfungsi, sehingga menggangu pemandangan kota.

Kejadian serupa hampir pasti terulang dan kali ini warung internet, atau lebih dikenal dengan sebutan warnet akan bernasib sama dengan pendahulunya yang gulung tikar karena kalah dalam persaingan. Seperti kita tahu perkembangan teknologi saat ini sangat cepat, sehingga menuntut para penggunannya untuk dapat mengakses informasi dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi saat ini. Terkait dengan kondisi diatas kemudahan masyarakat menakses internet melalui berbagai media sarana seperti handphone, modem, dan tersebarnya hotspot di berbagai tempat  memabuat masyarakat berpikir pindah dari warnet ke sarana yang lain karena mereka menawarkan harga yang lebih murah atau bahkan mungkin gratis dalam mengaksesnya.

Maka saat ini para pelaku usaha warnet harus membuat “ancang-ancang’’ untuk menghadapi kemungkinan kemungkinan diatas. Untuk itu mereka harus melakukan inovasi dengan membuat sebuah strategi yang tepat agar industry warnet akan tetap berkelanjutan dan tidak seperti pendahulunya. Mungkin sebagai alternative para pelaku industry ini dapat membuat suatu fitur atau media yang hanya dapat diakses melalui PC atau warnet dan tidak terdapat dalam smartphone  ataupun media lainnya, sehingga dengan begitu industry ini akan bertahan dalam menghadapi persaingan saat ini.

Ngobrol di Gardu Ronda (21/April/2102;00.05 AM)

Ngobrol dengan teman di gardu ronda, Sabtu 21 April 2012, 00.05 WIB

Kartini,…Raden Ajeng Kartini

Sebuah nama yang sangat dikenal di negara kita, terlebih bagi kaum wanita yang menjadikan Kartini adalah sebuah figur perempuan yang tegar dan penuh tanggung jawab dengan segala apa yang diembannya saat itu, walaupun dengan segala keterbatasannya diitengah penindasan penjajah saat itu. Pada tanggal 21 April 2012 kemarin tak hanya kebaya, baju daerah dikenakan oleh masyarakat di seluruh wilayah negara kita. Banyak para kaum muda mengupdate statusnya melalui berbagai jejaring sosial maupun BBM. Mulai dari “Habis gelap Terbitlah terang”, Kartini pelopor Kaum wanita, dan sebagainya. Adapula satu kolom lebar dalam berbagai media cetak yang menguraikan perjuanagn dan pengorbanan Beliau RA Kartini. Banyak juga para pejabat negara yang mengucapkan Selamat hari kartini melalui berbagai media di masyarakat.

Yang menjadi pertanyaan kita saat ini adalah dimana Kartini sekarang?. Setelah semua yang sudah engkau korbankan dan engkau perjuangkan dahulu kala. Saat ini dimana penerus-penerus engkau saat ini, tanggal 21 April kemarin baru saja terlewati, semua mengenangmu.Semoga saja tidak hanya mengenangmu saja para perempuan sekarang bisa mengenalmu. Tetapi juga bagaimana beliau (Kartini) bisa menjadi figur bagaimana memposisikan perempuan saat ini. Dimana…. dimana… dimana….

Jadi mari berkartini tidak hanya terlihat dari busana saja yang hanya setiap tanggal 21 April kita kenakan, tetapi mari kita lanjutkan apa yang menjadi cita-cita beliau (Kartini), apa yang telah dikorbankan dan diperjuangkan saat itu. Bagaimana kita mengerti apa itu artio emansipasi yang sesungguhnya yang selalu disalahtafsirkan oleh masyarakat. Emansipasi merupakan bagaimana kondisi sesuatu yang bisia berubah melalui kesetaraan. Jadi dapat  disimpulkan arti Emansipasi dan apa yang dimaksudkan oleh Kartini adalah agar wanita mendapatkan hak  untuk mendapatkan pendidikan, seluas-luasnya, setinggitingginya. Agar wanita juga di akui kecerdasannya dan diberi kesempatan yang sama untuk mengaplikasikan keilmuan yang dimilikinya dan Agar wanita tidak merendahkan dan di rendahkan derajatnya di mata pria.

Bahkan banyak dari para ibu  yang mengatakan “Jika Kartini masih hidup saat ini, beliau akan menyerang pengertian emansipasi saat ini, bagaimana bbanyak wanita yang mengumbar aurat, banyak wanita yang ingin menjadi laki-laki karena ingin diakui yang berangkat dari rasa rendah diri dan merasa lebih unggul jika menjadi seorang laki-laki. Sebenarnya kita (manusia) itu unik masing-masing (pria&wanita) memiliki kelamahan dan keunggulan masing-masing yang seharusnya kita bisa saling mengisi dan melengkapi. Bagaimana sesuatu yang berbeda itu adalah memiliki hak yang sama dalam segala bidang keilmuan ataupun keahlian tanpa harus mendeskriminasikan antara keduanya. Benang merahnya adalah bagaimana lelaki menghormati perempuan sepenuhnya dan sebaliknya bagaimana perempuan menghormati laki-laki seutuhnya. (vid)

Malioboro Oh Malioboro

Membaca dari salah satu surat kabar harian Yogyakarta beberapa hari lalu tentang pendapat dari masyarakat baik lokal maupun mancanegara terkait dengan polusi yang timbul di jantung kota Yogyakarta yaitu Malioboro, ada satu atau bahkan mungkin semua menganggap bahwa Jalan malioboro sekkarang sudah menjadi “pabrik parfum” atau disebut PT. Pesing tbk. Beberapa pendapat masyarakat mengungkapkan bahwa salah satu penyebab merebaknya “parfum” tersebut adalah berasal dari adanya keberadaan andong dengan kudanya yang sering “pipis sembarangan”.

Tapi asosiasi pengusaha andong melalui beberapa wakilnya mengatakan bahwa sebetulnya bukan hanya andong saja yang menjadi penyebab pencemaran udara tersebut, bahkan beberapa masyarakat mengatakan bahwa kebiasaan kencing sembarangan dan kesadaran menjaga lingkungan dengan membuang sampah pada tempatnya sekarang sudah sangat berkurang. Sehingga sebenarnya terjadinya pencemaran udara ini merupakan tanggung jawab bersama termasuk masyarakat dan pemerintah kota. menindak lanjuti peristiwa diatas maka Pemeriuntah Kota Yogyakarta sedang mengupayakan suatu program yang saat ini sedang diujicobakan untuk mengurangi pencemaran udara di kota Yogyakarta. Program tersebut adalah pengadaan popok untuk kuda para pelaku usaha andong itu sendiri.

Dalam realisasinya banyak para pengusaha andong yang mengajukan keberatan, karena setelah memakai popok tersebut, kudanya menjadi risih dan agak sulit untuk dikemudikan. Tapi demi menjaga kebersihan lingkungan, mereka setuju saja memamkaikan popok kepada kuda mereka, asalkan masyarakat juga dikenakan sanksi yang tegas jika ketahuan kencing sembarangan di seputar jalan malioboro yang notabene adalah menjadi pusat tujuan bagi wisatawan lokal maupun asing yang singgah di Kota Yogyakarta.

Oleh karena itu mari kita sebagai masyarakat dan tentunya bagi para stake holder seperti pemerintah ataupun LSM dan organisasi lingkungan, mari kita kampanyekan dan sosialisasikan dengan gencar terkait dengan kebersihan lingkungan. Mari kita jadikan kota kita sebagai kota yang nyaman untuk dihuni, kota yang nyaman untuk disinggahi dengan mencitrakan diri sebagi kota dengan lingkungan yang bersih terlebih dengan para penduduknya yang ramah dan bersahaja. Monggo..monggo..

Tradisiodern

Melihat keberadaan retail modern saat ini sudah menjamur dan hampir pasti keberadaanya hingga perkampungan. Kondisi ini tentu saja mempengaruhi akan keberadaan retail tradisional maupun para pengecer seperti pasar tradisional dan toko kelontong misalnya. Sehingga pada kondisi diatas banyak para pengecer memilih untuk gulung tikar karena kalah bersaing dengan retail modern yang berdiri di depannya.

Melalui Ketua Persatuan Pedagang Pasar Tradisional (KP3T) Kabupaten Malang, Pendapatan para pedagang tradisional mengalami penurunan, sehingga setiap harinya mereka selalu merugi. Terlebih keberadaannya sangat berdekatan dengan pasar tradisional. Saat ini di kabupaten Malang sendiri telah berdiri kurang lebih 200 minimarket yang kesemuanya berdiri dan berlokasi di dekat pasar tradisional. Selain itu belum adanya payung hukum yang tegas terkait berdirinya minimarket dan mungkin semoga sudah terlahir perda tentang hal ini. ( http://surabaya.detik.com/read/2011/03/16/142558/1593214/1066/pedagang-tradisional-keluhkan-menjamurnya-minimarket )

Seperti belum lama ini di Jl. Ancol I No.9 10, Ancol Barat Jakarta 14430, bagaimana masyarakat menolak keberadaan berdirinya salah satu minimarket yang dirasakan sangat menganggu karena lokasinya yang berdekatan dengan pasar tradisional. Hingga akhirnya Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) sebagai mediator akhirnya mengeluarkan putusan sebagi mediasi antara kedua belah pihak. Kemampuan pasar minimarket modern memang bisa sangat dominan bila dibandingkan dengan para pengecer dan pedagang tradisional. Berbagi keunggulan tersebut antara lain terkait dengan suplier, harga (diskon,potongan,dsb), jalur distribusi yang berbeda, dan sebagainya. Dengan semua keunggulan tersebut sangat dominan sekali bagi mereka untuk menguasai pasar.

Mengenai alasan kebangkrutan UKM (pengusaha kecil), pernyataan Syarif Hasan, Menteri Koperasi dan UKM bahwa minimarket bukanlah penyebabnya. Pada tataran praksis, inti dari merebaknya minimarket adalah kebutuhan akan barang-barang konsumsi yang bersih, modern, supply terjaga dan harga yang tidak fluktuatif terlalu sering. Untuk itu, ketika Pasar Tradisional direvitalisasi, sehingga dari sisi tertentu “modern” maka keberadaan pasar tradisional tetap menjadi rujukan utama masyarakat. Apalagi, pasar tradisional dapat menjadi pusat barang-barang konsumsi sebelum bergerak ke toko-toko distribusi. Toko-toko tradisional pun, berpotensi menjadi ritel modern. Tidak perlu menjadi Alfamart, Indomaret, Yomart dan seterusnya. Bisa dengan merk sendiri, asal manajemen dan perlakuan pelanggan secara modern. Penerapannya mulai dari model swalayan, dan tentu, tidak boleh ada “kasbon” seperti yang seringkali terjadi ( http://www.unggulcenter.org/2010/10/09/minimarket-melumpuhkan-pasar-tradisional/ )

Beberapa kondisi diatas memang diperlukan suatu mediasi yang seimbang antara pihak-pihak yang tekait di dalam lingkaran tersebut. Dalam hal ini pemerintah sebagai mediator diharapkan dapat membuat kebijakan yang dpat diterima oleh semua pihak termasuk masyarakat, para pelaku usaha dan juga untuk keseimbangan pasar pada umumnya. Tapi ketika saya bertanya pada salah satu pedagang pengecer yang buka di sekitar jalan Perumnas yogyakarta, ketika saya bertanya mengapa kok sampai gulung tikar?. Beliau menjawab, “Lha niku mas, sakwise ngarep omah ono minimarket kuwi, kroso tenan mas omsete medun okeh”. Hingga pada akhirnya dari pada tutup usahanya akhirnya tanah beliau juga dikontrakan pada salah satu kompetitor minimarket yang ada di depannya.🙂

Maka, mari kita bisa bijaksana terhadap berbagai kondisi diatas. Sebagai masyarakat, para pelaku usaha, maupun pemerintah dan semua yang terlibat didalamnya tidak semata-mata hanya berdalih modernisasi melainkan nilai-nilai tradisional masih sangat diperlukan dalam kehidupan ini atau lebih tepatnya mari kita ciptakan sebuah kondisi yang “tradisiodern”. Karena sebetulnya antara keduanya terdapat nilai-niali yang sangat dibutuhkan dalam hidup dan kehidupan ini. Jadi mari ber “tradisiodern”.🙂

Berbagai isu yang berkembang di negara kita setelah kericuhan pada konggres PSSI kemarin, akhirnya terjawab sudah. Dengan menelaan ludah akhirnya FIFA tidak akan memberikan snksi kepada PSSI yang konon kita cintai ini. Banyak kalangan dari dunia sepakbola kita beranggapan bahwa tidak adanya sanksi dari FIFA kali ini setelah rentetan peristiwa dalam perwayangan sepak bola nasional kita ini. Mereka para pelaku sepakbola bertanya-tanya apakah dengan mudahnya FIFA tidak memberikan sanksi sama sekali pada PSSI. Sebuah Organisasi sebesar FIFA yang saat ini dipimpin Seep Blatter sedang mengalami kisruh internal yang mengangkat kasus suap yang sedang terjadi di dalam tubuh organisasi. sepak boila terbesar di dunia itu.
Yang terjadi dalam internal FIFA pun mungkin saja mempengaruhi keputusan akan penetapan sanksi yang akan dialamatkan pada PSSI. Namun disamping semua kejadian yang melanda Negara persepakbolaan kita ini, sebagai insan sepakbola seharusnya kita bisa lebih dewasa dan arif dalam bertindak. Entah kita sebagai suporter, pemain, pelatih maupun rakyat indonesia yang peduli akan kelangsungan hidup persepakbolaan kita. mari kita sama-sama bergandeng tangan. Sebelum kita menggelar konggres tanggal 30 Juni 2011 untuk menetapkan siapa ketua Umum yang akan terpilih…atau mungkin jika kita tidak bosan melihat wakil-wakil kita di PSSI saling sikut-sikutan, Apakah kita bosan juga jika melihat prestasi Timnas sepakbola kita yang tak kunjung membawa trofi bagi bangsa kita. Kita patut bertanya pada diri kita masing-masing pantaskah kita juara..?????

Selamat Bantul…Lanjutkan perjuanganmu

Setelah tiga musim berturut-turut warga bantul khususnya dan DIY pada umumnya bersedih ketika salah satu wakil DIY pada perhelatan sepak bola tanah air tidak berhasil masuk pada jajaran kasta tertinggi perseoakbolaan tanah air, Yha ISL (Indonesia Super league). Tapi nampaknya mimpi itu sebentar lagi akan menjadi kenyataan dan akan segera terealisasikan tidak lama lagi.

Pada hari rabu kemarin secara dramatis akhirnya Persiba Bantul bisa menahan imbang PSMS Medan dengan skor yang cukup seru 3-3 setelah tertinggal 3 gol terlebih dahulu pada babak pertama. Mental yang drop pada babak pertama setelah tertinggal 3 gol sanagat berpengaruh pada permainan anak-anak bantul, tapi sungguh tiga gol yang seperti mukjizat saja, begitu ungkapan para simpatisan Persiba Bantul http://www.facebook.com/persiba?sk=info . Hasil imbang melawan PSMS membuat Persiba berada di posisi kedua klasemen akhir Grup B dengan torehan tiga poin. Persiba berhasil lolos setelah di laga lainnya yang bersamaan, PSAP Sigli ditekuk Mitra Kukar 1-0.

Melawan PSMS, Persiba sebenarnya tertinggal hingga tiga gol di babak pertama. Tim Ayam Kinantan berhasil mencetak tiga gol di babak pertama melalui Gaston Castano menit ke-15, Donny Siregar (36′) dan Rinaldo (43′).

PSMS yang sudah unggul tiga gol di babak pertama justru tetap bermain menyerang di babak kedua. Strategi itu berakibat fatal karena Persiba berhasil menyamakan kedudukan lewat hattrick bomber asing mereka, Fortune Udo.Udo berhasil tiga kali membobol gawang PSMS pada menit ke-53, 75 dan 84. Tiga gol ini membuat Udo semakin kokoh di puncak daftar pencetak gol terbanyak Divisi Utama dengan 34 gol.

Kemenangan ini memang belum lengkap sebelum partai 4 besar usai dan yang tentunya diharapkan seluruh masyarakta bantul dan tentunya DIY adalah Persiba Bantul dapat lolos ke ISL dan mencetak sejarah bagi Propinsi DIY dengan menjadi klub dari DIY pertama yang berhasil masuk ke kasta tertinggi persepakbolaan nasional. Tentu saja ini juga akan membawa harum nama DIY di pentas persepakbolaan nasional.

Semoga Keberhasilan Bantul bisa berlanjut terus pada perhelatan 4 besar Liga Divisi Utama yang akan berlangsung di stadiun Manahan Solo. Dan tentu saja dengan keberhasilan Persiba maju ke perhelatan kasta tertinggi persepakbolaan Nasional akan memicu tim-tim dari DIY lainnya seperti PSIM Yogyakarta dan PSS Sleman untuk berbenah dan bersaing dalam prestasi guna membawa nama harum Daerah Istimewa Yogyakarta…

Selamat Bantul…semoga lolos ke Indonesia Super League..
Hafid Lastito